Mega-proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tersendat, Ada Apa Gerangan?

21 Januari 2016, orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo, bersama sejumlah menteri dan kepala daerah melakukan peletakan batu pertama sebagai awal pembangunan High Speed Train atau proyek kereta cepat yang akan menghubungkan Jakarta dan Bandung.

Meski ketika itu jalanan yang becek karena sempat terguyur hujan, tidak menyurutkan semangat Ridwan Kamil dan Basuki Tjahaja Purnama yang masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk hadir menyaksikan groundbreaking megaproyek Indonesia dan Cina.

Proyek ini adalah upaya konkret menindaklanjuti pertemuan yang dilakukan Jokowi di akhir tahun 2014 bersama Presiden Cina, Xi Jinping. Memang pemerintah Indonesia melakukan segala upaya guna mempercepat perizinan agar proyek kereta cepat bisa segera terlaksana mengingat pemerintah Indonesia berjanji untuk menyelesaikan proyek ini hanya dalam waktu 2 tahun atau akan rampung di tahun 2019.

ground breaking kereta cepat jakarta bandung

Proyek ini rencananya akan menghubungkan antara Stasiun Halim Perdanakusuma yang berada di kawasan Jakarta Timur sampai ke Stasiun Tegal Luar yang berada di Gede Bage Bandung, Jawa Barat. Jarak tempuh dua kota besar yang tadinya membutuhkan waktu sekitar 3 jam akan dipangkas dengan signifikan hingga hanya akan memakan waktu sekitar 30 menit saja.

Sayangnya berita terakhir melaporkan bahwa ada masalah yang menghambat kemajuan megaproyek yang menjadi simbol kecepatan pemerintah dalam mengambil keputusan ini. Hingga awal tahun 2018, tidak terlihat ada kemajuan yang signifikan sejak proyek transportasi darat ini mulai dibangun. Beberapa spekulasi muncul dari kegagalan proyek hingga wacana terjadi korupsi di kalangan pemegang proyek. Namun, apa yang sebenarnya terjadi?

ilustrasi kereta cepat bandung jakarta

Terkendala Dana dan Pembebasan Lahan

Dana sebesar US$ 5.573 miliar akan digunakan untuk proyek pembangunan high speed train atau kereta cepat Jakarta-Bandung. Dana ini rencananya akan diperoleh dari PT Kereta Cepat Indonesia Cina, sebuah perusahaan hasil gabungan konsorsium beberapa BUMN Indonesia dan konsorsium China Railways yang menggunakan skema B2B atau business to business.

Pembagian saham KCIC sendiri sebagai pelaksana proyek adalah 60% kepemilikannya ada pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang merupakan gabungan 4 BUMN yang terdiri dari PT Kereta Api Indonesia, PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Sementara sisa saham dikuasai oleh China Railway International (CRI).

KCIC juga akan membayai proyek ini secara mandiri tanpa bantuan dari dana APBN. Sebagian besar biayanya memang didapat lewat suntikan dana dari China Development Bank (CDB) namun tidak berarti 4 BUMN yang bergabung tidak menyumbang dana karena mereka juga patungan dana untuk pembebasan lahan.

kereta cepat bandung - proyek mangkrak dan bengkak

Di sinilah pangkal masalah mulai terjadi. Pembebasan lahan yang direncanakan beres cepat ternyata diluar dugaan dan sempat tersandung masalah. Karena pembebasan lahan yang mandeg ini, akhirnya masalah merambat pada pencairan dana pinjaman yang tidak kunjung turun hingga akhirnya menghambat proses pembangunan lainnya.

Hingga saat ini, pinjaman tahap pertama sebesar US$ 1 miliar dari total US$ 5,9 miliar belum dapat dicairkan.

Proyek ‘Kecebong’

Di tengah kendala yang dihadapi, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga mendapat beberapa kritik tajam dari berbagai pihak. Salah satunya adalah kader Partai Demokrat, Roy Suryo, yang menyebut proyek ini adalah proyek ‘kecebong’ atau ‘kereta cepat bohongan’.

Roy Suryo menilai bahwa pembangunan megaproyek kerjasama dengan Cina ini bukan untuk kepentingan rakyat tapi semata-mata untuk kepentingan pengembang. Ia juga mengungkapkan tidak perlunya membangun kereta cepat Jakarta-Bandung yang berhenti 4 kali.

Ragam Transportasi yang Tersedia di Pulau Batam

Menengok kota Batam, selalu ada cerita yang menarik untuk diceritakan. Di mulai daerah wisatanya, sejarah kotanya, bisnisnya, hingga seluk beluk kehidupan malam kota batam seperti tentang perjudiannya yang dulu sempat menjadi primadona bagi para wisatawan baik lokal maupun asing. Kini tempat-tempat perjudian di Batam sudah di tutup, mungkin para pengusaha judi telah beralih semua menjadi agen judi online seperti mahabet.org dan situs-situs mitra judi online lainnya.

Untuk sekarang, yang mau diceritakan dari kota Batam adalah alat transportasi atau kendaraan umum yang ada di kota ini. Kenapa alat transportasi, karena penting untuk membahas hal yang satu ini. Bisa jadi informasi yang berguna untuk kamu yang ingin berjalan-jalan di kota Batam tapi tidak tahu harus menggunakan apa. Mungkin kamu bisa menyewa mobil atau menggunakan transportasi online, tapi menggunakan alat transportasi umum konvensional bisa menghemat uang-mu karena biasanya biayanya jauh lebih murah.

transportasi di batam - trans batam

Trans Batam

Alat transportasi pertama yang akan dibahas adalah BRT atau Bus Rapid Transit, atau yang lebih akrab dengan sebutan Trans Batam bagi para warga lokal. Bis yang mulai dioperasikan sejak tahun 2005 ini menjadi penghubung untuk Batam Center, Sei Jodoh dan Pelabuhan Sekupang, yang mana dalah tiga terminal bis utama di kota Batam. Untuk kamu yang ingin menggunakan Trans Batam, bis ini mulai beroperasi sejak pukul 06.00 hingga 18.30. Bis ini cukup populer karena setiap harinya bisa melayani sampai 3000 penumpang.

Untuk bisa menikmati fasilitas BRT kamu tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Tarif yang diberlakukan untuk jarak jauh maupun dekat adalah hanya Rp.4.000 untuk umum dan setengah harga untuk penumpang pelajar. Sampai saat ini, total armada Trans Batam adalah 72 unit, yang sebagian besarnya beroperasi di pulau utama.

taksi di batam

Taksi

Yang berikut ini sudah tidak asing pastinya. Untuk kamu yang ingin berkendara dengan nyaman dan tidak keberatan untuk mengeluarkan uang lebih. Kamu bisa menggunakan jasa angkutan taksi. Banyak taksi yang beroperasi di daerah Batam, seperti misalnya: Blue Bird, Silver Cab, Jala Taxi, dll.

Untuk kamu yang berkunjung ke Batam melalui jalur udara, dari Bandara Hang Nadim Batam kamu bisa menemukan taksi Koptiba, Citra Wahan, Union Taxi, Pinky Taksi, dan jenis lainnya. Sejak 2013, pemerintah setempat telah mewajibkan seluruh taksi yang beroperasi di Bandara Hang Nadim Batam untuk memakai Argo.

angkot di batam

Angkutan Kota

Seperti halnya di kota-kota lain di Indonesia, Batam juga punya jenis angkutan umum Angkot atau Angkutan Kota. Sepertinya transportasi jenis ini sudah menjadi moda transportasi darat yang wajib untuk kota-kota yang ramai penduduk.

Tidak berbeda dengan angkot-angkot di kota lainnya. Angkot di Batam juga dibedakan oleh warna-warna yang mencolok. Warna-warna ini yang akan menjadi tanda bagi para calon penumpang untuk membedakan trayek yang akan dilalui. Ada kurang lebih 8 Angkot dengan trayek yang berbeda beroperasi di seluruh wilayah Batam. Jenis transportasi ini juga termasuk yang paling populer karena biaya yang dikeluarkan untuk memakai jasa angkutan ini terbilang cukup murah.

Ada beberapa jenis angkutan lain seperti ojek pangkalan atau ojek online yang bisa digunakan untuk berkeliling daerah Batam. Yang sedikit berbeda dari kota-kota lain adalah Batam memiliki transportasi air seperti kapal pancung. Karena Batam adalah wilayah kepulauan, kapal pancung digunakan oleh warga lokal untuk mencapai pulau-pulau di sekitar pulau utama.

Sejarah Singkat Jalan Tol di Indonesia

Berapa kali dalam sehari Anda memasuki jalan tol? Khusus bagi warga Jakarta, mungkin jalan tol merupakan bagian dari keseharian mereka. Dan walaupun orang-orang di daerah mungkin masih sedikit asing dengan jalan tol, akan tetapi sepertinya tidak lama lagi mereka juga akan bisa menikmatinya. Bisa dilihat dari masifnya proyek jalan tol di berbagai daerah yang sedang dibangung saat ini. Di Jakarta sendiri saja ada enam proyek tol dalam kota. Sementara di daerah lain, sedang dibangung proyek tol seperti Solo-Kertosono, empat ruas tol di pulau Sumatera, tol Balikpapan-Samarinda, dan lain-lain.

 

jalan tol cipularang

Kenyataan bahwa tol sudah menjadi bagian dari tindakan mobilitas keseharian kita ternyata tidak serta merta membuat kita semua paham bagaimana asal-usul jalan tol ini. Nah, ada baiknya kita melihat mundur sedikit ke belakang tepatnya di tahun 1955. Di tahun tersebut, Walikota Jakarta Sudiro yang menjabat selama 1953 – 1960 merupakan orang pertama yang mengusulkan pembuatan jalan tol di Jakarta. Dan inilah yang nantinya akan menjadi usulan pertama dari berbagai proyek jalan tol yang kemudian akan dibangun. Akan tetapi, usulan Sudiro tersebut tidak disetujui oleh DPRD. Yang menjadi alasan utama adalah bahwa jalan tol merupakan sistem yang kuno dan dikhawatirkan akan menghambat lalu lintas.

Menurut DPRD, sistem jalan tol merupakan bagian dari sejarah kuno khususnya pada era kolonial. Pasalnya, setiap pengguna jalan tol akan diwajibkan untuk membayar retribusi untuk mendapatkan akses menggunakan jalan tol. Kala itu, Sudiro mengusulkan jumlah retribusi adalah satu sen dari harga normal bensin. Alasan adanya retribusi adalah untuk membantu daerah untuk mendapatkan penghasilan. Hal ini disebabkan karena anggaran daerah yang cenderung selalu defisit karena banyak pengeluaran sementara bantuan dari pusat tetap terbatas.

Akan tetapi, usulan ini ditolak oleh DPRD dan juga menteri perekonomian kala itu. Menurut mereka sistem retribusi mengadopsi teknik retribusi masa kolonialisme dan oleh karenanya merupakan ide yang ketingalan jaman. Tapi hal tersebut tidak hanya berhenti di situ saja. Menurut Sudiro, ide jalan tol bukan merupakan ide yang ketinggalan jaman. Sudiro yang kebetulan pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1961 melihat bahwa sistem jalan tol masih berjalan di sana dan terbukti efektif untuk mendongkrak pendapatan daerah tanpa membebani lalu lintas. Malahan, keberadaan jalan tol membantu kelancaran lalu lintas di sana.

jalan tol jagorawi

Karena pertentangan tersebut, pembangunan jalan tol yang pertama baru disetujui 18 tahun sejak usulan yang pertama. Pada tahun 1973, dimulailah pembangunan jalan tol yang pertama yaitu tol Jagorawi yang menghubungkan antara Jakarta, Bogor, dan Ciawi. Jalan tol yang memiliki panjang 59 kilometer itulah yang menjadi titik tolak pembangunan jalan tol di Jakarta dan di daerah-daerah lainnya di tanah air.

Usulan yang tadinya terdengar tidak masuk akal karena pembangunan jalan tol memakan anggaran yang besar sekali dan juga dianggap ketinggalan jaman tersebut ternyata malah memberikan efek yang sebaliknya. Memang pembangunan memakan anggaran yang banyak akan tetapi nantinya anggaran tersebut akan kembali seiring berjalannya waktu melalui retribusi. Dan malahan akan menghasilkan penghasilan bagi daerah.

Ketika pembangunan Tol Jagorawi, Presiden Soeharto mengatakan bahwa jalan tol tersebut merupakan jalan yang terbaik yang pernah dimiliki negara Indonesia (pada saat itu). Presiden Soeharto juga mengakui bahwa pembangunan memang ditangani oleh kontraktor luar negeri akan tetapi banyak pikiran dan juga tenaga asli Indonesia yang terlibat. Oleh karenanya, kita semua patut bangga.