Sejarah Singkat Jalan Tol di Indonesia

Berapa kali dalam sehari Anda memasuki jalan tol? Khusus bagi warga Jakarta, mungkin jalan tol merupakan bagian dari keseharian mereka. Dan walaupun orang-orang di daerah mungkin masih sedikit asing dengan jalan tol, akan tetapi sepertinya tidak lama lagi mereka juga akan bisa menikmatinya. Bisa dilihat dari masifnya proyek jalan tol di berbagai daerah yang sedang dibangung saat ini. Di Jakarta sendiri saja ada enam proyek tol dalam kota. Sementara di daerah lain, sedang dibangung proyek tol seperti Solo-Kertosono, empat ruas tol di pulau Sumatera, tol Balikpapan-Samarinda, dan lain-lain.

 

jalan tol cipularang

Kenyataan bahwa tol sudah menjadi bagian dari tindakan mobilitas keseharian kita ternyata tidak serta merta membuat kita semua paham bagaimana asal-usul jalan tol ini. Nah, ada baiknya kita melihat mundur sedikit ke belakang tepatnya di tahun 1955. Di tahun tersebut, Walikota Jakarta Sudiro yang menjabat selama 1953 – 1960 merupakan orang pertama yang mengusulkan pembuatan jalan tol di Jakarta. Dan inilah yang nantinya akan menjadi usulan pertama dari berbagai proyek jalan tol yang kemudian akan dibangun. Akan tetapi, usulan Sudiro tersebut tidak disetujui oleh DPRD. Yang menjadi alasan utama adalah bahwa jalan tol merupakan sistem yang kuno dan dikhawatirkan akan menghambat lalu lintas.

Menurut DPRD, sistem jalan tol merupakan bagian dari sejarah kuno khususnya pada era kolonial. Pasalnya, setiap pengguna jalan tol akan diwajibkan untuk membayar retribusi untuk mendapatkan akses menggunakan jalan tol. Kala itu, Sudiro mengusulkan jumlah retribusi adalah satu sen dari harga normal bensin. Alasan adanya retribusi adalah untuk membantu daerah untuk mendapatkan penghasilan. Hal ini disebabkan karena anggaran daerah yang cenderung selalu defisit karena banyak pengeluaran sementara bantuan dari pusat tetap terbatas.

Akan tetapi, usulan ini ditolak oleh DPRD dan juga menteri perekonomian kala itu. Menurut mereka sistem retribusi mengadopsi teknik retribusi masa kolonialisme dan oleh karenanya merupakan ide yang ketingalan jaman. Tapi hal tersebut tidak hanya berhenti di situ saja. Menurut Sudiro, ide jalan tol bukan merupakan ide yang ketinggalan jaman. Sudiro yang kebetulan pergi ke Amerika Serikat pada tahun 1961 melihat bahwa sistem jalan tol masih berjalan di sana dan terbukti efektif untuk mendongkrak pendapatan daerah tanpa membebani lalu lintas. Malahan, keberadaan jalan tol membantu kelancaran lalu lintas di sana.

jalan tol jagorawi

Karena pertentangan tersebut, pembangunan jalan tol yang pertama baru disetujui 18 tahun sejak usulan yang pertama. Pada tahun 1973, dimulailah pembangunan jalan tol yang pertama yaitu tol Jagorawi yang menghubungkan antara Jakarta, Bogor, dan Ciawi. Jalan tol yang memiliki panjang 59 kilometer itulah yang menjadi titik tolak pembangunan jalan tol di Jakarta dan di daerah-daerah lainnya di tanah air.

Usulan yang tadinya terdengar tidak masuk akal karena pembangunan jalan tol memakan anggaran yang besar sekali dan juga dianggap ketinggalan jaman tersebut ternyata malah memberikan efek yang sebaliknya. Memang pembangunan memakan anggaran yang banyak akan tetapi nantinya anggaran tersebut akan kembali seiring berjalannya waktu melalui retribusi. Dan malahan akan menghasilkan penghasilan bagi daerah.

Ketika pembangunan Tol Jagorawi, Presiden Soeharto mengatakan bahwa jalan tol tersebut merupakan jalan yang terbaik yang pernah dimiliki negara Indonesia (pada saat itu). Presiden Soeharto juga mengakui bahwa pembangunan memang ditangani oleh kontraktor luar negeri akan tetapi banyak pikiran dan juga tenaga asli Indonesia yang terlibat. Oleh karenanya, kita semua patut bangga.

Kenali Lebih Dekat Proyek MRT dan LRT Jakarta

Sebentar lagi, warga Jakarta dan sekitarnya akan memiliki moda transportasi baru yaitu MRT dan LRT. Tingkat kemacetan yang tinggi di tengah kota Jakarta dan kota-kota penyangga di sekitarnya membutuhkan solusi untuk meningkatkan produktifitas warganya yang terhambat karena macet. MRT dan LRT dipilih pemerintah pusat dan daerah sebagai solusinya. Lalu, apa sih sebenarnya MRT dan LRT itu? Mari kita bahas satu persatu.

penampakan kereta mrt jakarta

  1. MRT

MRT merupakan singkatan dari Mass Rapid Transportation atau Moda Raya Terpadu adalah sebuah sistem transportasi dengan PT. Mass Rapid Transportation Jakarta (PT. MRT Jakarta) sebagai operatornya. Saham mayoritas PT. MRT Jakarta dimiliki oleh Pemda DKI Jakarta yang bertanggung jawab dalam pembangunan, operasional dan perawatan serta pengembangan dan pengelolaannya.

Moda transportasi MRT adalah berbentuk kereta yang dioperasikan secara otomatis tanpa masinis dengan hanya menekan  tombol dari pusat kendali. Dengan tombol tersebut, kereta akan berjalan sesuai tempat tujuannya. Kereta MRT akan berjalan di bawah tanah dan jalan layang sehingga tidak mengurangi jalur kendaraan yang sudah ada.

project mrt jakarta

Jalur MRT direncanakan akan membentang sepanjang kurang lebih 110,8 km yang terdiri dari dua koridor yaitu koridor Selatan – Utara sepanjang 23,8 km (dimulai dari Lebak Bulus – Kampung Bandan) dan koridor Timur – Barat sepanjang kurang lebih 87 km. Pembangunannya sendiri telah dimulai sejak tahun 2013 dan diperkirakan selesai di tahun 2018 mendatang.

Pembangunan MRT tahap pertama menggunakan pinjaman dari Bank Jepang untuk jasa rekayasa yang merupakan tahap pra konstruksi untuk mempersiapkan tahap konstruksi. Setelah itu dilanjutkan dengan pinjaman untuk tahap berikutnya hingga pada tahap pembangunan, jumlah pinjaman PT. MRT Jakarta sudah mencapai 120 miliar Yen.

peta rute mrt jakarta

 

Rute Lebak Bulus – Bundaran HI yang merupakan pembangunan tahap I menjadi prioritas pembangunan. Dengan panjang rel 15,7 km dan memiliki 13 stasiun dengan rincian 7 stasiun bawah tanah dan 6 stasiun bawah tanah, rute ini direncanakan akan dapat difungsikan secara penuh di bulan Maret 2019. Sedangkan tahap II, yaitu Bundaran HI – Kampung Bandan yang memiliki panjang 8,1 km baru akan mulai dibangun dengan target pengoperasian tahun 2020.

Untuk jalur Barat – Timur, masih dalam tahap studi kelayakan dan ditargetkan akan dioperasikan pada tahun 2024 – 2027.

Selain moda transportasinya, PT. MRT Jakarta akan memaksimalkan pengelolaan kawasan MRT dengan menyediakan ruang berpromosi bagi perusahaan yang dapat menambah pemasukan sehingga dapat menekan harga tiket untuk masyarakat. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah membangun infrastruktur ini agar tidak membebani masyarakat dengan harga tiket yang mahal. Saat ini, pembangunan fisik MRT sudah mencapai 80 persen dan terus dikebut penyelesaiannya agar bisa terselesaikan dan target launching di bulan Maret dapat tercapai dengan pengerjaan yang sempurna.

 

penampakan kereta lrt jakarta

  1. LRT

Light Rapid Transportation adalah moda transportasi yang akan menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Bekasi dan Bogor. Penggagas proyek ini adalah Pemda DKI Jakarta untuk proyek LRT dalam kota dan PT. Adhi Karya bertanggung jawab untuk proyek LRT penghubung Jakarta dengan kota lainnya.

Pembangunan LRT diinisiasi dari mandeknya proyek monorel di Jakarta. Untuk memanfaatkan proyek ini maka monorel diubahfungsikan ke LRT yang nantinya akan terintegrasi dengan MRT dan KRL Commuter Line.

rute lrt jakarta

Direncanakan, LRT akan memiliki 6 rute seperti Cawang – Cibubur, Cawang – Kuningan – Dukuh Atas, Cawang – Bekasi Timur, Dukuh Atas – Palmerah Senayan, Cibubur – Bogor, dan Palmerah – Bogor/Grogol. Rute-rute ini merupakan rute kemacetan setiap jam kantor di pagi dan sore hari. Dan rute ini memiliki titik potong dengan Busway dan stasiun Commuter Line.

Walaupun untuk rute luar kota dibangun oleh swasta, namun pemerintah menjamin akan mengendalikan harga tiket dengan cara mengambil alih dari PT. Adhi Karya setelah pembangunan selesai. Dengan demikian, pemerintah bisa menjamin harga tiket disamakan atau tidak terlalu mahal dengan tiket rute lain. Berbeda dengan MRT, pengoperasian LRT menjadi  tanggung jawab PT KAI sebagai penyelenggara sarana seperti layaknya pada pengelolaan Commuter Line.

proyek lrt jakarta

Secara fisik, kereta LRT lebih langsing dari MRT. LRT juga berjalan di atas rel di jalan layang dan sebagian di atas tanah dengan pembatas dari jalur kendaraan bermotor. Gerbong dan kapasitas penumpang LRT jauh lebih sedikit dari MRT.

Pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat membantu produktifitas warga Jakarta dan sekitarnya yang juga akan meningkatkan pendapatan per kapita. Selain itu, juga untuk menarik investasi asing di mana kemacetan yang semula menjadi momok telah dapat dicarikan solusinya. Pada akhirnya, rakyatlah yang harus menikmati setiap pembangunan fisik ini karena pembangunan ini dilakukan dengan menggunakan pinjaman yang dibayar dengan pajak yang dipungut dari rakyat.